Senin, 13 Maret 2017

Puisi Kemerdekaan

Hasil gambar untuk gambar kemerdekaan


Banggakah Aku
Banggakah aku pada negeriku
yang sedang tidak karuang ini
banggakah aku pada tanah airku
yang sedang terjajah pada kerakusan duniawi ini
banggakah aku pada bangsaku
yang kian hari kian meluntur tergerus kepentingan pribadi
mana warisanku dari perjuangannya dulu
yang katanya penuh perjuang dan darah air mata
mengapakah hilang dan hanya untuk dikenang


    I N D O N E S I A
sebentuk gugusan pulau
dan tetap saja tak nyaman hidup ketika perasaan
sebangsa, sesaudara, sepenanggungan
hanya cerita tapi tak kasat mata
apa arti lagu-lagu upacara itu
ketika sehabis dinyanyikan
sekolah sekolah rakyat tergusur
seragam seragam bukan menjadi kebanggaan keilmuan
namun prasyarat dan penghalang keingin tahuan maju
apa arti kesejahteraan terjamin negara
jika ketidakmerataannya menimbulkan
banyak kecemburuan
bersaing antara jumlah mobil mewah
dan rumah gerobak sampah
bersaing antara gedung pencakar lagit
dan penampungan kolong jembatan sarang penyakit
apa arti kewibawaan itu
jika para pencoleng bisa bebas bersekutu
bom – bom berledakan bak kembang api
tak ada perlindungan bagi TKI pejuang devisa kita
juga ketika para juara dunia terlantar
mengais nafkah ketika masa uzurnya tiba
siapa yang masih menangis terharu
ketika merah putih berkibar
siapa yang masih berdegup bangga
ketika merah putih mengangkasa
siapa yang masih berdiri gagah
ketika merah putih memandang dunia
ajari aku
kembali bangga
kembali mencintai negeriku

Irama Nusantara
Meliuk, membentang, dan menggejola
Perihalmu menampilkan
Pabila satu, pabila dua, pabila tiga
Itu pastilah berbeda
Sedikit orang yang memperlihatkan
Apalagi mengerti perihalmu beda itu
Tak sedikit darah yang ditumpahkan
ataupun harta dikobarkan
Tuk menebus gejolak iramamu itu
Memang hanya satu yang dapat
meredam ,meluluh, bahkan menyirnakan
Pabila persatuan tertancapkan di irama nusantaramu


Bambu Runcing
Karya: Rayhandi
Di ujung bambu tajam menyikat
Mengoyak musuh hingga ampun
Di bilah tajam sakit mencekat
Siap siaga menelan musuh
Ujung bambu jadi saksi
Hitam rasa menyakit
Mengusir iblis dengan nyawa
Tanpa takut tanpa gentar
Rasa cinta tanah air
Menyatu di darah merah
Mengakar di tulang putih
Menguasai nafas
Mereka berjuang hingga raib
Bercerai dengan raga
Untuk bumi garuda
Untuk indonesia raya
Mereka mati dengan hormat
Memperjuangkan secerut kebebasan 
Yang terenggut durjana
Untuk satu kemerdekaan.
 
Hari ini
Karya: Rayhandi
Hari ini kita berdiri di depan cermin
Memandang rupa hingga busana
Memandang diri yang takjub
Dengan lihai kita berlenggok
Hari ini lihatlah wajah wajah kita
Keras tanpa urat malu
Bagai tembok beton
Terpancar dengan bangga
Hari ini kita berdiri
Di bumi hitam begam
Di air biru jernih
Di udara putih bersih
Tapi tahukah dikau?
Bumi yang kita pijak adalah keringat para pahlawan
Mereka berjuang untuk tanah yang kita pijak dan untuk air yang kita minum
Hingga saat ini
Kita bisa terbang tanpa terkurung
Bisa berteriak tapa bekapan
Itu semua karena jasanya.
 
Minggu, 12 Maret 2017

Puisi tentang Desa

Damainya Alam Desaku
oleh: Dino Joy

Saat malam terdengar suara jangkrik yang menderik
Saling bersautan tertata rapi bagaikan alunan musik
Semakin mendekat, telingaku semakin terpekik
Kupergi menjauh karena mereka juga tak mau terusik..

Begitulah yang terdengar setiap malam didesaku
Hanya suara jangkrik dan hembusan angin yang bertalu
Sedikit bisa mengobati suasana hati yang sedang pilu
Mengingatkan masa-masa kecil yang telah lama berlalu..

Begitu indah suasana alam saat pagi di desaku
Masih terdengar suara kokok ayam membangunkanku
Burung-burung bernyanyi meledek langkahku
Tupai berlompatan dari dahan kedahan diatasku..

Semilir sejuknya berhembus udara dipagi hari
Dihangatkan senyuman ramah sang mentari
Dinginnya embun membasuh wajah yang baru terbangun dari mimpi
Menetes di dedaunan berkilauan menyilaukan hati..

Kurasakan terpaan angin yang berhembus disaat siang
Saat duduk dibawah pohon hijau yang rindang
Bersandar di pohon sambil mata terus memandang
Sambil meresapi saat hembusan angin segar mulai datang

Begitulah gambaran tentang keindahan alam desaku
Yang perlahan mulai memudar seiring waktu
Bertambahnya banyak pemukiman-pemukiman baru
Menggantikan kesederhanaan keindahan di desaku..



Suasana Pagi Di Desaku
oleh: Dino Joy

Puisi Pagi Di Alam Desaku
Sejuk menusuk begitu sejuk
Udara di pagi ini yang kuteguk..
Saat kuberjalan rumput-rumputpun menunduk
Menyambut sang surya muncul di ufuk..

Kesejukan dan kehangatan kini bersatu
Membelai tubuhku yang terasa kaku..
Sungguh kuterbuai dalam sinaran mentari pagimu
Disuana indah pagi di alam desaku..

Hijaunya daun pepohonan bergoyang gemulai
Tertiup angin perlahan seolah melambai..
Saling menyapa dalam suara melodi angin yang ramai
Di kolam ikan kulihat kupu-kupu menari diatas teratai..

Terima kasih Tuhan, dengan semua yang kini kurasakan..
Atas keindahan alam yang telah Engkau ciptakan..
Sungguh Engkau memang tak ada tandingan..
Penguasa segala sesuatu di kehidupan..



Puisi Buku

BUKU
Oleh Stephanie Maria

Aku senang membaca buku
Karena buku sumber ilmu
Setiap hari aku sempatkan baca buku
Agar ilmuku bertambah

Di buku aku temukan setumpuk ilmu
Dalam buku cerita ada kelucuan
Entah itu dalam gambar atau Cerita
Buku,engkau sungguh berjasa

Bagiku dan bagi semua orang
Aku hanya ingin berpesan
Anggaplah buku sebagai teman
Terima kasih buku




BUKU
 oleh Varian Raditya
Oh buku
Kau lah sumber pengetahuan
Sumber informasi
Dan sumber dari segala ilmu
Kau pun juga bisa membuat orang yang biasa saja menjadi orang yang terdepan
Tiada lengkap rasanya tanpa kehadiranmu

Oh buku
Kehadiranmu di dunia ini sungguhlah mulia
Dan juga berharga bagi setiap orang
Tanpa kehadiranmu mungkin dunia tak kan pernah maju
Karena berkurangnya informasi
Berkurangnya ilmu
Dan kurangnya pengetahuan
Yang bisa menjadi penentu maju tidaknya dunia

Oh buku
Terima kasih karena telah melengkapi dunia ini
Jasamu tak kan pernah terlupa oleh setiap orang


Sabtu, 11 Maret 2017

Puisi Perpisahan

DO'A KAN KAMI
Oleh Dimas Ibnu Al Rasyid 2014


Bahagia, haru, sedih menyelimuti kemeriahan ini

Menumpahkan segala rasa

Mengenang segala kisah

Memohon panjatan do'a



Waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari

Tanpa terasa kita kan berpisah

Ikatan emosi selama ini kan terlepas

Tiada daya untuk mengingkarinya



Kebahagiaan ini telah tertebus dengan jerih payah selama ini

Belajar tlah kami rengkuh dengan segala daya dan upaya

Bimbingan tlah kami dapatkan dengan ketulusanmu Guruku

Ilmu yang bermanfaat telah terpatri dalm benak kami



Tibalah saatnya kami undur diri

Tuk menggapai asa yang lebih tinggi

Tuk Menghadapi tantangan masa depan

Mencapai cita-cita mulia di hadapan
Kesalahan, kekhilafan, kenakalan, kecerobohan, dan ketidaksopanan kami
Tiada maksud kami untuk menyakiti
Penyesalan atas kebodohan kami
Ribuan maafmu kami harapkan

Waktumu, Ilmumu, bimbinganmu telah menyejukkan hati kami
Petunjukmu telah menuntun kami
Nasehatmu telah menyelamatkan kami
Tiada yang dapat kami berikan sebagai balasan selain ucapan terima kasih kami yang tulus dari lubuk sanubari terdalam



Tersisa satu harap

Guruku, Do'a mu kutunggu

Restumu kunanti

Tuk menerangi jalan kami yang makin berliku



Semoga do'amu kan selalu menyertaiku


HAL PERPISAHAN INI
Oleh Chinvaru

Mata yang berkaca-kaca...
Jantung yang berdetak-detuk tak menentu
Pikiran melayang-layang
Itulah terpaan gemuruh rasa dalam hatiku
Yang menemani saat ku tlah terpisah darimu

Waktu ini adalah saat waktu yang menyiksa
Menyiksa dirimu dan diriku
Waktu yang terasa lambat berputar
Berputar tuk berjalan melalui hari demi hari yang kan kita lalui
waktu di mana kita tak bersama-sama lagi

Kini semua hanya tinggal kenangan,
kenangan indah yang tlah kita lalui
Canda-tawa,sedih,kesal,khawatir dan rasa takut terpisahkan
Itulah perasaan yang menggumuli hati kita selama ini dan
rasa takut itu kini telah menjadi kenyataan.
Aku mengerti kau begitu sakit saat ini
Terpisah dan terpenjara sepi di sana
Namun ketahuilah sobat.....
Diri ini jauh lebih sakit merasakan semua ini

Aku bingung dan tak tahu harus bagaimana
Banyak hal yang tak dapat kukatakan dan ku jelaskan
Banyak hal yang tak kau mengerti maksud hati dan semua ini
Maafkanlah... cobalah tuk mengerti dan memahami
ambillah hikmat dari semua ini
Jauhkan rasa dendam dan benci, aku mohon...
Yakin dan percayalah semua ini kan ada hikmat nya

Ketahuilah sobat ku,
aku tak akan lupa dan tak akan pernah bisa
tentang apa yang harus memisahkan kita
Kenang lah sobat......

Puisi Karya Chairil Anwar

      Chairil Anwar merupakan penyair terkenal di Indonesia. Dia lahir di Medan, 26 Juli 1922 dan meninggal di Jakarta, 28 april 1949. Dia sudah berhasil menciptakan karya-karya terbaiknya dengan menulis 70 buah puisi dan 96 syair.
       Untuk lebih jelas apa aja sih puisi karya Chairil Anwar. Inilah beberapa puisi karya Chairil Anwar....

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,

Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
Tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.
 
RUMAHKU

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu

Puisi chairil anwar: 27 april 1943


DOA
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh


AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan akan akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam

Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini

Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam

Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!


SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…

Puisi chairil anwar: 1944

CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya

Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja.”

Amboi! Jalan sudah bertahun kutempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.



TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Puisi chairil anwar: Februari 1943
Jumat, 10 Maret 2017

Puisi Islami










 
Hasil gambar untuk gambar nuansa islami


Al-Hadid



Ketika sepotong besi jadi tombak

besi tak pernah tahu

untuk apa dia dijadikan tombak



Ketika sepotong besi jadi pisau

pisau tak pernah tahu

untuk apa dia jadi pisau



Ketika sepotong besi jadi peniti

peniti tidak pernah tahu

untuk apa dia jadi peniti



Kecuali suatu hari tombak

dijadikan alat pembunuh

dan bersarang di jantung kiri

tombak mengeluh

aku tak ingin jadi seperti ini



Demikian pisau

ketika menemukan dirinya

di leher sebagai penebas

pisau mengaduh

aku tak bercita-cita jadi begini



Ketika besi yang menjadi senjata

berubah fungsi

diam-diam peniti mensyukuri

"aku menjadi, penyemat baju seorang sufi

setiap hari aku dibawa

rukuk sujud dan mensyukuri

nikmat Tuhan yang diberi

aku tidak ingin patah

biar berkarat aku ini"

 Makna : Al hadid merupakan nama dalam sebuah surat dalam Al-Quran yang berarti besi. Maksud dari pusis al hadid di atas adalah sebuah benda (dalam hal ini besi) akan mengalami peralihan fungsi akibat tangan manusia. Seperti apapun peralihan fungsi itu, misal menjadi tombak, pisau, atau peniti, semuanya merupakan implementasi dari sifat manusia yang menggunakannya.





KESABARAN DALAM DUA ARTI



Arti prtama

Berkaitan dengan waktu

Dalam konteks ini 

Kita harus yakin bahwa Tuhanlah yang paling tahu

Kapan usaha kita membuahkan hasil

Arti kedua

Berkaitan dengan emosi

Orang sabar pandai mengendalikan emosi

Jika tidak bisa kendalikan emosi

Maka kita akan kehilangan pemahaman 

Tentang sabar

Pada kaitannya dengan waktu

Karena emosi membuat kita tergesa - gesa dan bertindak gegabah


SAJADAH RINDU
Oleh: Poetra 
Lirih lisan merajut do’a
Melerai jiwa yang tiba-tiba terasa hampa
Di atas sajadah biru aku mengiba
Atas rindu yang merayap buai airmata
Hati meraung tak berdaya
Kala telapak tangan mengadukan lara
Mencoba tumpahkan segalanya
Hanya meminta pada Allah yang Kuasa
Di atas sajadah rindu kutitipkan
Derai cinta yang pernah Engkau (Allah) berikan
Saat engkau kenalkan aku dengan gadis impian
Meski jarak terpaut jauh tak terbayangkan
PadaMu kupersaksikan
Inilah aku hamba yang muram
Di sepertiga malam memohon petunjuk jalan
Jika memang gadis itulah sebaik-baik pilihan


DO'A MALAM
  Oleh: KPR
Malam terbagi
Ku ambil sebagian
Dipertiga akhirnya
Berharap kekhusuan
Semoga berkah
Pinta seorang insan
Yang penuh kekhilapan


Hitam yang bercahaya Teringatkan, kelam surau masa lampau Bahkan, mendung dirasakannya hingga kini Menghujam telak di kalbu Terang tak lagi menghiasi Penuh dengan rasa malu Tatkala kepekatan senantiasa didapati. Jeruji maksiat yang tak pernah henti Ibarat rembulan terbelah Hitam di setiap malam hari Terkelungkup penuh resah gelisah Di tanah itu, ia menyesal dalam sanubari. Pasrah kepada Sang Maha Pemurah. Yang ia harapkan satu Sebuah senyuman, senyuman penuh cahaya Perlahan melebur hitam itu Cahaya merekah diwajahnya Biaskan hitam dalam kalbu Tatkala hendak menghadap-Nya. Oh… Tuhan! Kau Maha Tahu, segala sesuatu yang kulakukan Rasanya tak pantas tuk mendekati-Mu Mengemis ampunan-Mu Penuh dosa kulakukan Tanpa ku tersadarkan. (Kudus, Maret 2016)

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.html
 TEMPAT YANG HANYA MILIK-MU
Oleh Irfa Erfianah

Bukan kepalsuan yang ku mau
Bukan kesemuan yang ku butuhkan
Hanya sebuah tempat
Yang bisa terima hinanya aku

Ku temukan itu di Sisi-Mu
Terlihat dalam Agung NamaMu
Tempat terindah yang hanya Milik-Mu
Tempat terindah yang hanya di SisiMu

Tempat yang bisa terima kotornya aku
Yang beri bahagia dalam ketenangan
Sungguh kepalsuan tiada padanya
Kesemuan pun mustahil ada padanya

Wahai Dzat Penggenggam Jiwa
Jiwa-jiwa hidup dan jiwa-jiwa mati
MerinduMu dalam lembar penghambaan
Berharap diterima di tempat yang hanya Milik-Mu.



SEBELUM NYAWA TERLEPAS RAGA
Oleh Hartono "Jhon Witir"

Ketika tahta menguasai jiwa
Ketika mimpi tak beralas hati nurani
Tak peduli apa kata mereka
Bahkan Tuhan pun dianggap tiada

Saat logika berpikir nafas tak berakhir
Saat jiwa merasa menang tak kan ada lawan
Tak ada rasa takut akan hari kemudian
Karna rasa itu tlah tertutup bisikan syetan

Sadarlah wahai jiwa yang zolim
Kemenangan yang kau rasa sebenarnya adalah kekalahan

Surga yang kau rasa di dunia, sesungguhnya jalanmu ke neraka

Segeralah bersujud mohon ampunaNya
Sebelum nyawa terlepas dari raga

Tidak kah cukup bagimu tertulis berita
Kematian Fir'aun yang melegenda 

Hitam Yang Bercahaya Oleh Muhammad Khoirul Faizin

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.html
Hitam Yang Bercahaya Oleh Muhammad Khoirul Faizin

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.
Hitam Yang Bercahaya Oleh Muhammad Khoirul Faizin

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.html

Hitam Yang Bercahaya Oleh Muhammad Khoirul Faizin

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.html

Hitam Yang Bercahaya Oleh Muhammad Khoirul Faizin

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.html

Hitam Yang Bercahaya Oleh Muhammad Khoirul Faizin

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.html

Oleh Muhammad Khoirul Faizin

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.html

Oleh Muhammad Khoirul Faizin

link : http://www.puisipendek.net/hitam-yang-bercahaya.html